Mungkin pembaca sekalian belum familiar dengan istilah di atas. Memang wajar, karena di negeri kita istilah ini belum banyak digunakan dan diterapkan. Oke, langsung saja kita kupas apa sih sous vide itu!
Sous vide berasal dari bahasa Perancis yang artinya dalam kondisi vakum (“under vacuum“). Teknik memasak sous vide adalah gaya memasak di mana bahan makanan dikemas dalam plastik pouch kedap udara/vakum dan direndam dalam penangas air (water bath) dengan suhu yang terkontrol secara tepat. Metode ini pertama kali dikenalkan oleh Benjamin Thompson pada tahun 1799, tetapi baru populer di kalangan chef di Perancis pada tahun 1970-an.
Teknik memasak sous vide memiliki beberapa fenomena saintifik yang dapat diamati. Pengemasan vakum mengakibatkan panas dapat disalurkan secara efektif dari air ke bahan pangan, karena tidak adanya panas yang terbuang akibat perambatan medium udara dalam kemasan. Selain itu, karena pangan dikemas dalam kemasan tertutup, kontaminasi dapat dihindari sementara komponen flavor volatil dan uap air dapat tetap tertahan dalam kemasan. Suhu yang terkontrol memudahkan dalam reprodusibilitas dan keseragaman pematangan. Teknik sous vide memasak makanan dengan suhu yang relatif rendah dalam kurun waktu yang lama, sehingga suhu pemasakan seragam baik di permukaan maupun bagian dalam bahan. Hal ini juga menguntungkan karena nutrien-nutrien dalam makanan lebih sedikit terdegradasi dibandingkan memasak dengan cara tradisional.
Tentunya tidak ada suatu teknik manapun yang memiliki kesempurnaan absolut tanpa adanya kekurangan. Salah satu faktor pembatas dalam sous vide adalah keamanan pangan. Seperti yang pernah saya bahas di artikel sebelumnya tentang pasteurisasi dan makanan kaleng, suhu dan lama pemanasan sangat berpengaruh terhadap keamanan pangan dalam kaitannya dengan mutu mikrobiologis. Keamanan pangan yang dimasak dengan sous vide sangat bergantung pada kandungan mikroba awal, suhu dan lama pemanasan, proses pendinginan setelah pemasakan, dan kondisi penyimpanan. Umumnya, pemasakan sous vide terjadi pada suhu 55 °C. Suhu tersebut masih sangat rentan terhadap pertumbuhan bakteri C. botulinum, apalagi ditambah dengan kondisi vakumnya. Oleh karena itu, untuk alasan keamanan, makanan yang dimasak dengan sous vide tidak disarankan disimpan terlalu lama dan sebaiknya segera disajikan.
Meskipun teknik ini awalnya hanya terbatas pada dapur profesional, saat ini sudah banyak digunakan oleh praktisi pangan dan bahkan rumah tangga. Dua tipe mesin sous vide yang umum ditemui adalah tipe immersion circulators dan water ovens. Tipe yang pertama dapat dikombinasikan dengan panci dan bejana-bejana memasak lainnya untuk digunakan dalam dapur rumah. Tipe water ovens berukuran sebesar microwave dengan sistem pemanasan air yang bersirkulasi. Keduanya dapat dibeli dengan harga yang terjangkau. Beberapa manufaktur yang memproduksi mesin tersebut di antaranya Sous Vide Supreme, Broomfield, Colo; DC Norris, UK; KitchenAid, Belgium; dll.

Sous vide machine: immersion circulators
Dengan membaca penjelasan di atas, tentunya sekarang kita sudah mempunyai bayangan bagaimana aplikasi sous vide dan apa produk yang cocok untuk dihasilkan dari teknik sous vide. Sous vide banyak digunakan oleh outlet-outlet penyaji makanan, mulai dari fast food hingga high-end restaurant. Kategori makanan yang umum disajikan dengan teknik sous vide adalah sayur-mayur, daging, seafood, dan telur. Berdasarkan penelitian, brokoli dan kembang kol memiliki level antioksidan dan vitamin C yang lebih tinggi ketika dimasak dengan sous vide daripada direbus, dikukus, ataupun dimasak dengan microwave. Hal ini karena penggunaan suhu yang tidak terlalu tinggi sehingga organel-organel sel tidak rusak dan nutrien tetap terjaga.
Mesin sous vide tipe water ovens
Sous vide steak yang dimasak pada suhu 54 °C menghasilkan steak yang moist, berwarna pink, lebih empuk, dan flavor yang terjaga dibandingkan dengan steak yang dimasak umumnya. Sous vide salmon steak yang dimasak pada suhu 44-61 °C selama 17-20 menit memberikan tekstur flaky yang lembut dengan warna yang pink dan rasa yang juicy. Hal ini kontras dengan salmon steak yang dimasak secara tradisional di mana kerap kali bagian permukaan steak overcooked dan mengering serta kehilangan moisture.

Salmon steak yang dimasak dengan teknik sous vide
(Artikel diterjemahkan dan dimodifikasi dari IFT Food Technology Magazine edisi Desember 2017)
Nah, setelah pembaca mengetahui prinsip teknik sous vide beserta kelebihan dan kekurangannya, kira-kira bagaimana ya perkembangan teknik ini di masa depan? Apakah nantinya Indonesia akan mengadopsi atau justru tidak mengikuti tren tersebut? Tulis pendapat kalian di kolom komentar di bawah ya. Saya tunggu diskusinya yang menarik. Sampai jumpa di Food Facts edisi selanjutnya!




Kerusakan yang paling ditakuti dalam makanan kaleng, khususnya, adalah tumbuhnya bakteri Clostridium botulinum. Bakteri ini dapat menghasilkan racun botulin yang dapat berakibat kematian pada orang yang mengonsumsinya. C. botulinum adalah bakteri anaerob obligat, artinya bakteri ini dapat tumbuh dalam kondisi tanpa oksigen, persis seperti kondisi dalam makanan kaleng. Oleh sebab itu, bakteri ini selalu menjadi target proses sterilisasi makanan kaleng agar jangan sampai ditemukan ada dalam makanan kaleng. Menurut European Food Safety Authority (EFSA), batas toleransi aman untuk peluang ditemukannya C. botulinum dalam makanan kaleng adalah 10-9. Angka ini berarti maksimal peluang adanya C. botulinum dalam makanan kaleng adalah 1 dari 109 kaleng yang diproduksi. Apabila proses sterilisasi telah memenuhi syarat untuk membunuh C. botulinum, maka otomatis mikroba perusak dan mikroba patogen lain akan ikut mati. Jadi, sudah jelas bahwa pengawetan makanan kaleng bukan dengan penambahan zat-zat kimia yang seringkali ditakuti oleh masyarakat.
untuk meletakkan bahan yang akan disterilisasi. Panas yang masuk ke retort disuplai dari uap panas (steam) yang dihasilkan oleh steam boiler. Jadi, pemanasan dalam retort bukanlah menggunakan api langsung tetapi menggunakan energi panas yang ditransfer oleh steam. Retort memiliki pengatur suhu otomatis yang di’set’ sesuai dengan suhu yang diinginkan. Suhu akan naik secara perlahan hingga mencapai suhu setting. Waktu yang diperlukan untuk mencapai suhu setting point ini disebut come-up time (CUT). Retort yang baik memiliki nilai CUT yang kecil.





atau label yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang tertulis atau izin yang telah terbit. Kasus food adulteration sebenarnya sangat marak terjadi di negeri kita sendiri. Penyebabnya mungkin karena ketidaktahuan atau unsur kesengajaan. Tiap negara tujuan memiliki standar masing-masing, hal ini berarti suatu produk bisa saja lolos verifikasi di suatu negara namun tidak lolos di negara lainnya. Sudah menjadi kewajiban bagi eksportir untuk meneliti aturan yang berlaku pada negara tujuannya.

